Akhirnya hari ( 3 minggu+5 hari) datang juga. Benar benar perjuangan datang ke KonJen!!
Perjuangan Pertama
KonJen Indo itu gak ada di city, carinya setengah mati. Bayangin, KonJen China, Hong Kong, Austria, Canada, Denmark, Perancis, Greek, Israel, Itali, Jepang, Korea, Lebanon, Malta, Mexico, Poland, Spanyol, Sweden, Swiss, THAILAND, Amerika, semuanya tuh ngumpul di City semua, gampang diraih kalo ada passport hilang atau segala macem.
Tapi yang satu ini tuh jauh banget, susah raihnya, kalo naik bus, LAMA, abis itu masih butuh jalan kaki 10 menit lagi!!! Ravel bingung!!!
Perjuangan Ketiga (Baca yang ke tiga, sebelum baca yang ke dua)
2.35 Tiba tiba ada orang bagi bagi kalender yang gede gede. gratis
Bingung… pertanyaan pertama, sejak kapan Indo jadi Royal? Seingat Ravel, kayaknya bagi bagi barang gratis itu gak mungkin deh. abis itu tiba tiba ada bule nyeletuk ke Ravel
Bule : Oh Gosh, that is why they give out the Calendar, it is already March and they are unable to get rid of the calendars. So stingy (pelit)
Ravel : yeah, that is true, they should have done it before the year start, not after 3 months
Bule : do you want it? I don’t want it
Perjuangan Pertama
KonJen Indo itu gak ada di city, carinya setengah mati. Bayangin, KonJen China, Hong Kong, Austria, Canada, Denmark, Perancis, Greek, Israel, Itali, Jepang, Korea, Lebanon, Malta, Mexico, Poland, Spanyol, Sweden, Swiss, THAILAND, Amerika, semuanya tuh ngumpul di City semua, gampang diraih kalo ada passport hilang atau segala macem.
Tapi yang satu ini tuh jauh banget, susah raihnya, kalo naik bus, LAMA, abis itu masih butuh jalan kaki 10 menit lagi!!! Ravel bingung!!!
Perjuangan Ketiga (Baca yang ke tiga, sebelum baca yang ke dua)
2.35 Tiba tiba ada orang bagi bagi kalender yang gede gede. gratis
Bingung… pertanyaan pertama, sejak kapan Indo jadi Royal? Seingat Ravel, kayaknya bagi bagi barang gratis itu gak mungkin deh. abis itu tiba tiba ada bule nyeletuk ke Ravel
Bule : Oh Gosh, that is why they give out the Calendar, it is already March and they are unable to get rid of the calendars. So stingy (pelit)
Ravel : yeah, that is true, they should have done it before the year start, not after 3 months
Bule : do you want it? I don’t want it
Ravel : (dasar jiwa pengen barang gratisan) Yeah, why not?
Bule : Thanks
Ravel : Thanks to you!
(akhirnya kalender Ravel dikasih teman, gak disimpan sendiri)
Perjuangan Keempat (Baca yang ke empat sebelum baca yang ke dua)
Memperlakukan orang seenak jidat itu tidak baik buat kesehatan
Ravel paling gak suka di perlakukan seenak jidat deh, sebagai perfeksionis, Ravel paling gak suka dengan KETIDAKTEPATWAKTUAN. Sudah dibilang meeting jam 2.30, tapi masih di lelet leletin ampe lama banget ampe Ravel juga cape hati.
Sepertinya Ravel itu bukan apa apa deh, kenapa mesti juga memperlakukan orang seperti begitu sih!!!
Perjuangan Kelima (Baca yang kelima sebelum baca yang ke dua)
Gila Pangkat, memuji dan sembah sembah
Ravel paling bingung ini mau mulai dari mana nih!!
Bos Ravel namanya Jane , Ravel panggil Jane
Bos’nya Jane namanya Anthony, Ravel panggil Anthony
Bos’nya Anthony namanya Matthew, Ravel panggil Matt
Bos’nya Matt namanya Mark, Ravel panggil Mark
Bos’nya Mark namanya Patrick (CEO). Ravel panggilnya Patrick
Apakah Ravel pernah memanggil mereka Ibu Jane, Bapak Anthony, Mister Mattt, Mister Mark, Mister Sir Patrick? Gak tuh. dan mereka terganggu gak? Enggak kok. Mereka biasa biasa ajah.
Tapi kenapa Ravel Bapak KonJen itu merasa tersinggung kalo Ravel tidak memanggil dengan kata BAPAK? Apa yang membuat Bapak KonJen lebih maha kuasa/agung dibandingkan Ravel?
Perjuangan Kedua
Lupa kalo orang Indo itu kebanyakan NGARETTTTTT!!!!! N-G-A-R-E-T, seharusnya Ravel dateng jem 2.30 ajah, gak usah cepet cepet, Ravel yang perfeksionis ini emang bego dan gampang ditipu!!
Kronologisnya
Ravel ke resepsionis
Ravel : nama saya Ravel, Ravel ada meeting dengan Bapak KonJen jam 2.30
Resepsionis : oh, saya beritahu Bapak dulu yah (langsung ke belakang…)
Lalu pas resepsionisnya balik
Resepsionis : oh, Ravel duduk dulu yah, nanti di panggil
Ravel : terima kasih.
Lalu Ravel duduk
2.30 duduk duduk
2.35 (liat perjuangan ketiga)
2.38 ini udah 8 menit telat
2.40 udah 10 menittt
2.44 gila.. 14 menitttttttt
2.45 gila… 15 menitttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttt
2.48 teori lain yang terbukti, kalo Ravel butuh KonJen, Ravel boleh diperlakukan seenaknya! (liat perjuangan keempat)
2.50 kok belum di panggil yah? Ravel kok belum di panggil yah?
2.53.
Resepsionis : Ravel, silakan tunggu disini.
Ravel : terima kasih.
2.54 Yes akhirnya Ravel akan di wawancara juga.
Symphony Wawancara no 1 (by Ravel Von Sutedjowidjojo) 2010
Babak 1 – The Scary Bapak
Ada orang datang mendekati Ravel.
Bapak KonJen : (sambil salaman), hi, apa kabar adik?
Ravel : (salam balik) Ravel baik, apa kabar kamu?
Bapak KonJen : (diem)…. (diem sambil melihat mata saya langsung)…
Ravel : (what the?)
Lalu setelah itu dia jalan sendiri dan masuk ke ruangan kecil, di dalam ruangan tersebut ada 3 kursi dan 1 meja. Kursi dan mejanya semuanya terukir dari kayu kayu.
Dan Bapak KonJen-nya pun duduk. Setelah dia duduk, dia tidak menyuruh Ravel duduk. Ravel dibiarkan berdiri. Karena Ravel bingung mau ngapain, akhirnya Ravelpun duduk juga
Ravel : (ngomong apa kek!! )
Bapak KonJen : (menghela nafas dalam dan panjang) kamu tau gak di Indonesia itu ada kelas kelas kastanya, ada ini, ada itu, lalu dibawah ini 2 dan itu 2 (LUPA, Ravel ingat dia sebut beberapa nama yang Ravel tidak tau sama sekali).
Ravel : (Ravel sama sekali bingung, ini pembicaraan yang sangat tidak diharapkan sekali, bukannya ada wawancara tentang passport hilang?)……………………
Bapak KonJen : jadi kalo kelas kelas yang lebih bawah harus menghormati kelas kelas yang di atas. Seperti orang yang lebih muda harus menghormati. Jadi kamu HARUS…
Ravel : (memotong pembicaraan-Nya dan nada bete) MAAF!! Mari kita ulang dari depan lagi yah. Apa kabar BAAAAAPPPPPAAK? (liat perjuangan kelima)
Bapak KonJen : Nah, begitu baru bener. Karena kamu lebih muda dari saya, jadi kamu harus hormat kepada saya
Ravel : maaf BAAAPPAAAKKK (Gila Pangkat!!)
Bapak KonJen : Seharusnya begitu. Contohnya, anak buah saya semuanya tidak berani memanggil saya dengan nama langsung, semuanya memanggil Bapak
Ravel : (la la la la la la… pura pura denger, pura pura denger, la la la la la, mata tetep liat konsentrasi ama Bapak ini biar gak keliatan kalo Ravel lagi berimajinasi. La la la, Lalalalalalalalalla) iyah Bapak, maaf
Bapak KonJen : ngomong ngomong ngomong……(lupa ngomong apa, kan Ravel lagi nanyi, dan tiba tiba si Bapak bertanya) Kamu di Indo belajar bahasa Indonesia tidak?
GWAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAARRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRSAHFSKJDFSKDHFSDFJHWEUFHWUENJNEWICJNLKJEWCJNELJFKLDLJWAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAARRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRR
Symphony Wawancara no 1
Babak 2 – The Indonesian Language
Ravel : Maksud Bapak?
Bapak KonJen : kamu di Indo pernah belajar bahasa Indonesia ga tentang sopan santun, kenapa kamu gak tau
Ravel : (what the???) Iyah, saya pernah belajar bahasa Indonesia
Bapak KonJen : seharusnya kamu tau tentang menghormati yang lebih tua kan.. ngomong ngomong ngomong terussssss… lalu ngomong ngomong lagi
Ravel : (please GOD, stab me now!! This is the most useless conversation I ever had! Please please please God!)
Bapak KonJen : ngomong ngomong ngomong…. Jadi kamu harus hormat ama saya karena saya lebih tua
Ravel : Maaf sekali lagi Bapak kalo Ravel bersikap kurang sopan ama Bapak (dalem hati Ravel, pengennya ngomong kayak gini : Maaf sekali Bapak yang maha Agung Kuat Sejahtera, Hamba hanyalah pengemis yang tidak bisa berbuat apa apa (sambil sembah sembah tiga kali))
Bapak KonJen : betul sekali, kamu harus ingat yah.
Symphony Wawancara no 1
Babak 3 – The Passport
Akhirnya ngomong ke passport juga
Bapak KonJen : kamu tau gak passport kamu itu milik siapa?
Ravel : passport Ravel adalah milih Ravel.
Bapak KonJen : salah, passport kamu ini milik Negara!!
Ravel : (What the?)
Lanjur, Bapak KonJen : Passport kamu adalah milik Negara. Apabila pemerintah Indonesia mengeluarkan passport untuk kamu, itu artinya Passport itu milik Negara dan Pemerintah hanya meminjamkan untuk kamu. jadi meskipun kamu pegang passport kamu, tapi itu milik tetap milik Negara (Perjuangan keenam)
Ravel : (ngangguk ngangguk dengan penuh kebingungan) yes yes
Bapak KonJen : Ya udah, lain kali hati hati yah, passportnya jangan sampai hilang lagi. Gitu ajah. Passport besok boleh diambil
Ravel : Oke, Terima kasih Bapak.
Bapak KonJen beridiri, buka pintu, lalu mempersilakan keluar.
Ravel : terima kasih bapak. Sampai jumpa kembali
Bapak KonJen : Yep (lalu menghilang dari pandangan Ravel)
Then….
Minggu 4 + 2 hari
PASSPORT BARUUUUUUUUUUUUUUUUUU KYAAAAAAAAAAAA!!!!
SO DAMN HAPPY !!!
My next question is:
Perjuangan keenam
Ngaku… Siapa yang tau kalo passport kalian adalah milik Negara?
Bule : Thanks
Ravel : Thanks to you!
(akhirnya kalender Ravel dikasih teman, gak disimpan sendiri)
Perjuangan Keempat (Baca yang ke empat sebelum baca yang ke dua)
Memperlakukan orang seenak jidat itu tidak baik buat kesehatan
Ravel paling gak suka di perlakukan seenak jidat deh, sebagai perfeksionis, Ravel paling gak suka dengan KETIDAKTEPATWAKTUAN. Sudah dibilang meeting jam 2.30, tapi masih di lelet leletin ampe lama banget ampe Ravel juga cape hati.
Sepertinya Ravel itu bukan apa apa deh, kenapa mesti juga memperlakukan orang seperti begitu sih!!!
Perjuangan Kelima (Baca yang kelima sebelum baca yang ke dua)
Gila Pangkat, memuji dan sembah sembah
Ravel paling bingung ini mau mulai dari mana nih!!
Bos Ravel namanya Jane , Ravel panggil Jane
Bos’nya Jane namanya Anthony, Ravel panggil Anthony
Bos’nya Anthony namanya Matthew, Ravel panggil Matt
Bos’nya Matt namanya Mark, Ravel panggil Mark
Bos’nya Mark namanya Patrick (CEO). Ravel panggilnya Patrick
Apakah Ravel pernah memanggil mereka Ibu Jane, Bapak Anthony, Mister Mattt, Mister Mark, Mister Sir Patrick? Gak tuh. dan mereka terganggu gak? Enggak kok. Mereka biasa biasa ajah.
Tapi kenapa Ravel Bapak KonJen itu merasa tersinggung kalo Ravel tidak memanggil dengan kata BAPAK? Apa yang membuat Bapak KonJen lebih maha kuasa/agung dibandingkan Ravel?
Perjuangan Kedua
Lupa kalo orang Indo itu kebanyakan NGARETTTTTT!!!!! N-G-A-R-E-T, seharusnya Ravel dateng jem 2.30 ajah, gak usah cepet cepet, Ravel yang perfeksionis ini emang bego dan gampang ditipu!!
Kronologisnya
Ravel ke resepsionis
Ravel : nama saya Ravel, Ravel ada meeting dengan Bapak KonJen jam 2.30
Resepsionis : oh, saya beritahu Bapak dulu yah (langsung ke belakang…)
Lalu pas resepsionisnya balik
Resepsionis : oh, Ravel duduk dulu yah, nanti di panggil
Ravel : terima kasih.
Lalu Ravel duduk
2.30 duduk duduk
2.35 (liat perjuangan ketiga)
2.38 ini udah 8 menit telat
2.40 udah 10 menittt
2.44 gila.. 14 menitttttttt
2.45 gila… 15 menitttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttt
2.48 teori lain yang terbukti, kalo Ravel butuh KonJen, Ravel boleh diperlakukan seenaknya! (liat perjuangan keempat)
2.50 kok belum di panggil yah? Ravel kok belum di panggil yah?
2.53.
Resepsionis : Ravel, silakan tunggu disini.
Ravel : terima kasih.
2.54 Yes akhirnya Ravel akan di wawancara juga.
Symphony Wawancara no 1 (by Ravel Von Sutedjowidjojo) 2010
Babak 1 – The Scary Bapak
Ada orang datang mendekati Ravel.
Bapak KonJen : (sambil salaman), hi, apa kabar adik?
Ravel : (salam balik) Ravel baik, apa kabar kamu?
Bapak KonJen : (diem)…. (diem sambil melihat mata saya langsung)…
Ravel : (what the?)
Lalu setelah itu dia jalan sendiri dan masuk ke ruangan kecil, di dalam ruangan tersebut ada 3 kursi dan 1 meja. Kursi dan mejanya semuanya terukir dari kayu kayu.
Dan Bapak KonJen-nya pun duduk. Setelah dia duduk, dia tidak menyuruh Ravel duduk. Ravel dibiarkan berdiri. Karena Ravel bingung mau ngapain, akhirnya Ravelpun duduk juga
Ravel : (ngomong apa kek!! )
Bapak KonJen : (menghela nafas dalam dan panjang) kamu tau gak di Indonesia itu ada kelas kelas kastanya, ada ini, ada itu, lalu dibawah ini 2 dan itu 2 (LUPA, Ravel ingat dia sebut beberapa nama yang Ravel tidak tau sama sekali).
Ravel : (Ravel sama sekali bingung, ini pembicaraan yang sangat tidak diharapkan sekali, bukannya ada wawancara tentang passport hilang?)……………………
Bapak KonJen : jadi kalo kelas kelas yang lebih bawah harus menghormati kelas kelas yang di atas. Seperti orang yang lebih muda harus menghormati. Jadi kamu HARUS…
Ravel : (memotong pembicaraan-Nya dan nada bete) MAAF!! Mari kita ulang dari depan lagi yah. Apa kabar BAAAAAPPPPPAAK? (liat perjuangan kelima)
Bapak KonJen : Nah, begitu baru bener. Karena kamu lebih muda dari saya, jadi kamu harus hormat kepada saya
Ravel : maaf BAAAPPAAAKKK (Gila Pangkat!!)
Bapak KonJen : Seharusnya begitu. Contohnya, anak buah saya semuanya tidak berani memanggil saya dengan nama langsung, semuanya memanggil Bapak
Ravel : (la la la la la la… pura pura denger, pura pura denger, la la la la la, mata tetep liat konsentrasi ama Bapak ini biar gak keliatan kalo Ravel lagi berimajinasi. La la la, Lalalalalalalalalla) iyah Bapak, maaf
Bapak KonJen : ngomong ngomong ngomong……(lupa ngomong apa, kan Ravel lagi nanyi, dan tiba tiba si Bapak bertanya) Kamu di Indo belajar bahasa Indonesia tidak?
GWAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAARRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRSAHFSKJDFSKDHFSDFJHWEUFHWUENJNEWICJNLKJEWCJNELJFKLDLJWAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAARRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRR
Symphony Wawancara no 1
Babak 2 – The Indonesian Language
Ravel : Maksud Bapak?
Bapak KonJen : kamu di Indo pernah belajar bahasa Indonesia ga tentang sopan santun, kenapa kamu gak tau
Ravel : (what the???) Iyah, saya pernah belajar bahasa Indonesia
Bapak KonJen : seharusnya kamu tau tentang menghormati yang lebih tua kan.. ngomong ngomong ngomong terussssss… lalu ngomong ngomong lagi
Ravel : (please GOD, stab me now!! This is the most useless conversation I ever had! Please please please God!)
Bapak KonJen : ngomong ngomong ngomong…. Jadi kamu harus hormat ama saya karena saya lebih tua
Ravel : Maaf sekali lagi Bapak kalo Ravel bersikap kurang sopan ama Bapak (dalem hati Ravel, pengennya ngomong kayak gini : Maaf sekali Bapak yang maha Agung Kuat Sejahtera, Hamba hanyalah pengemis yang tidak bisa berbuat apa apa (sambil sembah sembah tiga kali))
Bapak KonJen : betul sekali, kamu harus ingat yah.
Symphony Wawancara no 1
Babak 3 – The Passport
Akhirnya ngomong ke passport juga
Bapak KonJen : kamu tau gak passport kamu itu milik siapa?
Ravel : passport Ravel adalah milih Ravel.
Bapak KonJen : salah, passport kamu ini milik Negara!!
Ravel : (What the?)
Lanjur, Bapak KonJen : Passport kamu adalah milik Negara. Apabila pemerintah Indonesia mengeluarkan passport untuk kamu, itu artinya Passport itu milik Negara dan Pemerintah hanya meminjamkan untuk kamu. jadi meskipun kamu pegang passport kamu, tapi itu milik tetap milik Negara (Perjuangan keenam)
Ravel : (ngangguk ngangguk dengan penuh kebingungan) yes yes
Bapak KonJen : Ya udah, lain kali hati hati yah, passportnya jangan sampai hilang lagi. Gitu ajah. Passport besok boleh diambil
Ravel : Oke, Terima kasih Bapak.
Bapak KonJen beridiri, buka pintu, lalu mempersilakan keluar.
Ravel : terima kasih bapak. Sampai jumpa kembali
Bapak KonJen : Yep (lalu menghilang dari pandangan Ravel)
Then….
Minggu 4 + 2 hari
PASSPORT BARUUUUUUUUUUUUUUUUUU KYAAAAAAAAAAAA!!!!
SO DAMN HAPPY !!!
My next question is:
Perjuangan keenam
Ngaku… Siapa yang tau kalo passport kalian adalah milik Negara?
0 comments:
Post a Comment